Rabu, 17 Juli 2013

beritau saya dengan elegan !

impian sudah di genggaman, butuh banyak berkorban untuk hanya sekedar "menggenggam" sebuah keinginan sederhana yang sesungguhnya tak layak disebut cita cita. terjatuh, menangis, bahkan menyerah itu menjadi lumrah, walau ujung ujungnya pasrah.

aku bukan anak yang terlahir dengan rumah mewah dan megah. keluarga ku menyandang ekonomi yang terbilang "cukup". cukup bahagia, cukup asik, dan kadang juga cukup menyebalkan.dan aku bersyukur masih bisa mensyukuri semuanya. walau dengan keluhan, walau dengan tangisan.

aku tertulis menjadi bungsu kala Tuhan meniupkan ruh ku ke rahim ibu. sewajarnya anak bungsu perempuan, seolah aku diwajibkan untuk selalu dekat dengan orang tua. selayaknya anak perempuan terakhir, aku seperti dipaksa menjaga orang tua. 

bukan menolak!, bukan mengeluh !
ibarat seorang rakyat di sebuah negara, aku hanya menuntut ke-egaliter-an dari sang presiden. atau cukup beritahu saja padaku tentang porsi egaliter yang seharusnya kudapat, dengan segala resikonya dengan cara yang cukup elegan. (butuh jawaban !)

atau setidaknya, beri aku waktu untuk hanya sekedar merasakan apa yang kumau, tanpa sedikitpun rasa khawatir yang terucap dari mulut ibu, tapi tetap berada dalam jangkauan pandanganmu.  

karena raut khawatir yang terlampau larut, bisa membatasi pergerakanku.
tenanglah, aku tetap anak gadismu yang baik. aku tidak akan tidak pulang kerumahmu setiap hari. aku akan selalu menjagamu walau aku tidak secara real berada dihadapanmu. 

aku tau, ibu dan ayahku bahkan aku, bukan orang orang dengan kemampuan negosiasi yang baik. bukan juga orang yang punya kemampuan toleransi yang tinggi. juga bukan orang yang bisa menafsirkan makna konotasi kehidupan.

karena itulah, kami sering freak (dalam bahasa gaul).

sepertinya mereka selalu menelan mentah mentah, setiap petunjuk dan realita yang terjadi. selalu mengartikan bahwa anak yang baik, adalah anak yang selalu menurut perintah mereka, bukan anak yang mengerti mereka.

sejatinya sosok anak, juga butuh dimengerti dan wajib mengerti. tapi kadang porsi pengertian yang diinginkan masing masing pihak, tidak ternegosiasi dengan baik. ya karena itulah, karena kami bukan orang orang dengan kemampuan negosiasi yang baik (1x lagi).

Senin, 10 Juni 2013

too tired to go on

no words,

i can say nothing

Rabu, 05 Juni 2013

hello madam !

aku rindu berdendangnya senandung lagu di sisi sisi beranda rumahku yang dulu.
melewati batas pagar taman bunga yang sengaja kusekat dengan indahnya.
hatiku bahagia, sumringah.
menikmati segala anugerah yang Kuasa.

seiring berputarnya bumi ini, seiring jauhnya langkah langkah yang harus kujejaki.
dipaksa bertahan di segala keadaan,
dipaksa menurut mengikuti arus yang runtut.
mauku, arus itu ada di tanganku.
mauku, aku kemudi dari hidupku.
tapi itu teori !
sesungguhnya adalah, aku hanya penumpang yang HARUS, yang WAJIB MANUT, dengan segala doktrin sang penguasa.
sesungguhnya adalah, aku HARUS BUNGKAM dengan segala apa yang aku rasakan.
hello madam !
aku ini manusia,
punya rasa punya raga,
sedikitlah saja tolehkan kepalamu padaku,

 lalu, umbar senyum manismu meski hanya satu simpul saja.
dan itu akan sedikit membantu "dianggapnya" rasa dan juga ragaku.
hello madam !
alihkan pandangan matamu kembali ke tubuhmu,
lihat wajahmu di cermin,
akan kau dapati dirimu seayu bidadari,
sesempurna sang mahadewi,
tapi tunggu madam !
biarkan lain orang memandangmu, di cermin yang sama, di keadaan yg sama,
lalu tanyakan padanya,
apa kau seayu pandanganmu?
tentu akan berbeda beda jawaban mereka.
bawalah cermin pantul madam!
 agar kau bisa seketika tau, saat dirimu tak sebaik pandanganmu.

aku rindu kala waktu mulai memanjakan diriku,menikmati segala kesendirianku.
 

Dear My Note